Nama Muhammad Al-Fatih begitu fenomenal. Namanya sering disebut dalam kajian-kajian Islami, dan materi pelajaran di sekolah.

Bagaimana tidak, dalam usia 21 tahun ia berhasil menaklukan Konstatinopel. Mendengar kalimat ini, mungkin kamu sedikit merasa tertampar dan bertanya kepada diri sendiri.

Di usia 21 tahun, aku sudah melakukan apa ?

Meskipun usia 21 tahunmu sudah lewat, tidak apa-apa, kamu belum terlambat. Bergeraklah di zona waktumu dengan menciptakan definisi suksesmu sendiri.

Sebelum membahas sifat keteladanannya secara lebih jauh, sebaiknya kita berkenalan dulu dengan profil tokoh yang satu ini.

Muhammad Al-Fatih merupakan sultan ketujuh dari Kekaisaran Turki Utsmani. Ia lahir di Edirne pada 30 Maret 1432 M. Mehmet II merupakan gelar sultan yang disandangnya.

Muhammad Al-Fatih merupakan anak dari Sultan Murad II. Dari kecil ia dididik untuk menjadi pemimpin yang berani dan tangguh. Ayahnya mencarikan guru dari ulama-ulama besar.

Sultan Murad II memiliki kepercayaan bahwa anaknya adalah sosok yang disebut dalam hadits.

Kota Kostantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.

HR Ahmad bin Hanval Al-Musnad

Wow, benar ya perkataan itu adalah doa. Nah, semoga saja sejarah itu berulang. Semoga karakter Muhammad Al-Fatih di bawah ini bisa menjadi pembelajaran untuk hidupmu.

1. Banyak Belajar

Membaca buku
Membaca buku (Source : pixabay.com)

Buat kamu kaum millenial, jika ingin sukses seperti Muhammad Al-Fatih, rajin-rajinlah belajar.

Muhammad Al-Fatih menguasai tiga bahasa dari negara-negara Islam yakni Arab, Turki, dan Persia. Saat berusia 21 tahun, ia pun menguasai bahasa Yunani, dan enam bahasa lainnya.

Sejak kecil ia sudah belajar Al-quran, fiqih, dan hadits. Selain ilmu agama, ia juga mempelajari banyak ilmu duniawi seperti astronomi, matematika, fisika, militer, seni, dan ilmu lainnya.

Muhamamd Al-Fatih banyak belajar dengan ulama-ulama hebat. Selain itu, dia pun banyak mengambil pelajaran dari kisah-kisah orang pada masa lalu.

Sejarah adalah pelajaran favorit dari Muhamamd Al-Fatih. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan mayoritas pelajar zaman sekarang, ya?

Kebanyakan dari kita mungkin menganggap sejarah adalah mata pelajaran yang paling membosankan.

Padahal, sejarah merupakan cabang ilmu yang dikuasai para pemimpin besar Islam. Rasulullah SAW, Khalid bin Walid, Umar bin Khattab, merupakan contoh para tokoh besar yang mencintai sejarah.

Dengan banyak membaca kisah sejarah, Muhammad Al-Fatih tumbuh menjadi pribadi yang fleksibel, kreatif, dan inovatif.

Karena dengan mendalami kisah sejarah, seseorang bisa banyak mengambil pemikiran dan pengalaman para tokoh meski hidup beda zaman dengannya.

Ia mengambil nilai-nilai sejarah sebagai bahan perencanaan dan perhitungan dalam menentukan keputusan di masa depan.

Baca juga: Panduan Lengkap Menjelajahi Kota Wisata Turki Dalam Seminggu

2. Pekerja Keras dan Optimistik

Optimis
Optimis (Source : pixabay.com)

Muhammad Al-Fatih terkenal dengan sifat pekerja keras dan pantang menyerah. Saat semua orang berkata mustahil, bahkan logikanya sendiripun sulit mengelak, tapi dia tetap optimis dan bekerja keras.

Ketika lawan menolak untuk menyerahkan Konstatinopel, Muhammad Al-Fatih tetap teguh pada pendiriannya. Ia yakin, suatu hari nanti ia akan memiliki singgasana di Konstatinopel.

3. Berani

Berani
Berani (Source : pixabay.com)

Karakter generasi penerus bangsa haruslah menjadi sosok yang pemberani. Berani bermimpi, berani gagal, dan berani bangkit.

Di usia yang masih sangat muda, Muhammad Al-Fatih berani untuk terjun ke medan perang. Ia maju paling depan, tanpa gentar mengibaskan pedang di depan para musuh.

Keberanian Muhamamd Al-Fatih tampak jelas terlihat pada saat pertempuran di Balkan. Saat Turki Utsmani sedang berperang melawan pasukan Bughanda.

Meriam ditembakkan, menggentarkan nyali para pasukannya. Para pasukan menutup telinga, tiarap ke tanah. Hanya Al-Fatih yang tetap berdiri kokoh.

Dengan tangan yang mengepal dan sorot mata tajam ia berteriak lantang, “ Wahai pasukan mujahidin, jadilah kalian tentara Allah, dan hendaklah ada di dalam dada kalian semangat Islam yang membara.”

Dengan gagah berani, Al-Fatih mengenggam perisai lalu menghunuskan pedangnya. Tanpa menoleh, ia memacu kudanya berlari ke depan.

Baca juga: 5 Tempat Wisata Islami Bersejarah di Istanbul Turki

4. Rendah Hati

Rendah Hati
Rendah Hati (Source : pixabay.com)

Muhammad Al-Fatih selalu diajarkan oleh orang tua dan para gurunya untuk menjadi orang yang tetap merendah sehebat apapun pencapaiannya.

Berbekal pengajaran itu, Al-Fatih tumbuh menjadi pemuda yang tawadhu.

Ia terkenal sebagai sosok pemimpin yang dekat dan mengayomi para anggotanya. Ia tidak suka merendahkan anggotanya ketika ada yang berbuat kesalahan.

Baca juga: Menelusuri Cappadocia, Tempat Wisata Romantis di Turki

5. Rajin Beribadah

Rajin Ibadah
Rajin Ibadah (Source : pixabay.com)

Hal terpenting yang harus dimiliki anak muda agar sukses sedini mungkin adalah ibadah sebaik mungkin.

Ia selalu menggenggam prinsip bahwa tawakal dan berserah pada Allah adalah modal utama untuk meraih kesuksesan.

Ia percaya, setiap kemenangan dan pencapain datangnya dari Allah, bukan dari kekuatan diri kita.

Sehari sebelum berperang, ia memerintahkan semua pasukannya untuk berpuasa pada siang hari dan shalat Tahajud pada sepertiga malamnya.

Ikhtiar ini dilakukan untuk meminta kemenangan kepada Allah. Alhasil, Muhammad-Al-Fatih sukses menghantarkan kemenangan dengan menaklukkan Konstatinopel.

Perjuangan Muhammad Al-Fatih menyisakan bangunan-bangunan bersejarah di Turki. Bagi kamu yang merasa penasaran, mulai rencanakan liburan dan urus visamu di visaloka.com.

Write A Comment